Sabtu, 04 Juni 2011

Kamis, 02 Juni 2011

A Trip to Darwin (1)


Salah satu program dari SEAMOLEC (SEAMEO Regional Open Learning Centre) adalah memfasilitasi sekolah-sekolah (dasar dan menengah) di kawasan Asia Tenggara untuk saling bermitra (school partnership) dengan sekolah-sekolah di luar Asia Tenggara (India, China, Australia, Amerika Serikat, Kanada, Turki, Selandia Baru, dan sebagainya). Nah, kali ini SMK Negeri 1 Batang mendapatkan kesempatan untuk mengikuti program SEAMOLEC ke kota Darwin (ibukota Negara Bagian Nothern Territory, Australia) selama 5 hari. Delegasi SEAMOLEC ke Darwin dipimpin oleh Mangasa Aritonang dan dibantu staf keuangan (Ainun Fadhilah) dan staf dokumentasi (Erdih). Sekolah-sekolah yang tergabung dalam delegasi SEAMOLEC adalah: DKI Jakarta (SMAN 8), Jabar (SMAN 1 Depok), Jateng (SMAN 1 Pemalang, SMKN 1 Batang, SMKN 1 Magelang, SMKN 1 Purworejo, SMKN 2 Wonogiri, SMAN 1 Rembang, dan SMKN 1 Blora), Jatim (SMKN 1 Surabaya dan SMAN 3 Malang), dan Bali (SMKN 3 Denpasar). Tim terdiri dari 19 orang berkumpul di Bandara Internasional Ngurah Rai Denpasar pada hari Minggu, tanggal 22 Mei 2011 dan terbang ke Darwin dengan menggunakan pesawat JetStar JQ 82 pada pukul 22.00 WITA. Tiba di Bandara Internasional Darwin pada pukul 03.00 dini hari Senin, tanggal 23 Mei 2011. Rombongan melanjutkan perjalanan dan check in di Hotel Holiday Inn Darwin di Esplanade Road, kawasan asri di pantai Teluk Darwin. Delegasi dijadwalkan akan mengadakan kegiatan secara marathon mulai Senin hingga Jum'at, 27 Mei 2011.
Berikut laporan sekilas pandang kegiatan di sana.
Sebelum saya laporkan momen-momen penting yang menjadi fokus kunjungan ini, ada baiknya saya laporkan hal-hal yang berkaitan dengan kota Darwin dulu.
Kota Darwin berada di bagian paling utara benua Australia. Jarak dari Darwin ke Bali bahkan lebih dekat dibandingkan dari Darwin ke Brisbane dan ibukota-ibukota negara bagian lain di Australia (Perth, Sydney, Melbourne, dan Adelaide) bahkan ke ibukota Australia, Canberra.
Darwin merupakan kota paling besar dan terpenting di wilayah utara sehingga dijadikan ibukota negara bagian Nothern Territory. Luasnya kira-kira seperempat dari luas keseluruhan benua Australia sendiri. Namun sekalipun sebagai kota besar dan penting di Nothern Territory jangan dibayangkan kota itu sebesar Sydney di New South Wales atau seramai Melbourne di South Australia atau sesibuk Brisbane di Queensland. Darwin yang namanya diambil dari ilmuwan Inggris penulis buku legendaris "The Origin of Man", Charles Darwin, penduduknya hanya sekitar 100 ribuan. Jika seluruh penduduk negara bagian Nothern Territory (Darwin, Alice Spring, Catharine, dan kota-kota lainnya) digabung menjadi satu tidak lebih besar dari penduduk kota Semarang, Ungaran, dan Salatiga. Jumlah seluruh penduduk Nothern Territory hanya sekitar 16% dari total penduduk Benua Kangguru.
Namun begitu, sebagai ibukota negara bagian kota Darwin memiliki fasilitas pemerintahan yang lengkap sebagaimana ibukota-ibukota negara bagian lainnya di Australia. Bahkan karena banyaknya warga Darwin yang senang berlibur di Indonesia (Bali dan Lombok) dan juga banyak warga negara Indonesia di sana, maka pemerintah Indonesia memandang perlu membuka kantor Konsulat Republik Indonesia di Darwin. Kepala kantor konsulat Indonesia di Darwin saat ini adalah Bapak Bambang Daranindra.
Iklim di Darwin sama atau nyaris sama dengan iklim wilayah Indonesia Timur (khususnya NTT), kering dan berangin. Tanaman yang tumbuh pun hampir seragam, akasia (orang Australia menyebutnya yukaip). Tanaman pisang, kelapa, pinang, mangga, dan perdu-perdu tanah kering juga dapat dijumpai di hampir banyak tempat. Pada musim kemarau sungai-sungai nyaris kering, namun kebutuhan air melimpah karena pemerintah menyedot air tanah untuk memenuhi kebutuhan warganya.
Makanan pokok warga tidak terpaku pada satu jenis makanan utama karena penduduk Australia mengkonsumsi makanan yang bervariasi. Produk makanan berbasis terigu, beras, dan jagung pun banyak dikonsumsi warga. Satu hal yang mereka makan adalah makanan yang sudah mendapatkan label higinis (sehat bergisi) dari kantor pengawasan makanan dan minuman. Produk makanan halal (daging, minuman) juga dijual di sini. Semua bahan makanan dan minuman dijual di pasar-pasar modern (super market) yang ada hampir di semua pemukiman. Tidak ada lagi pasar tradisional seperti di tempat kita.
Pada jam-jam kerja (dan jam belajar) seluruh jalanan sepi. Namun pada jam-jam istirahat siang dan saat makan malam hampir sepanjang jalan dipenuhi orang-orang yang bersantap di restoran-restoran dan cafe-cafe. Juga di restoran-restoran khusus di tepi pantai, terlihat sangat banyak orang (besar, kecil, tua, muda) yang bersantap sambil bersenda-gurau. Warga Australia termasuk orang-orang yang suka makan di luar rumah dalam suasana santai, informal, dan bergembira. Tidak aneh jika setiap malam rumah-rumah makan di sepanjang jalan-jalan protokol kota Darwin dipenuhi meja-meja (hingga ke batas trotoar) dengan orang-orang yang lahap menikmati santapnya.
Konon kabarnya di Darwin masih banyak orang Aborigin. Apakah benar demikian? Saya sambung pada tulisan berikutnya. SElamat membaca dan sabar menunggu tulisan berikutnya.