Selasa, 11 Agustus 2009

Saya suka cerita fiksi, anda juga?

Dulu, SH Mintarja menginspirasi banyak orang dengan cerita fiksi berlatar sejarah, seperti cerita "Nagasasra dan Sabuk Inten" yang legendaris, dengan menampilkan tokoh fiktif sejarah Mahesa Jenar (Rangga Tohjaya). Cerita ini berlatar sejarah Kerajaan Demak masa Sultan Trenggana yang dibumbui dengan peristiwa hilangnya keris pusaka Nagasasra dan Sabuk Inten. Bukan itu saja, penulis juga berhasil menampilkan tokoh-tokoh fiktif yang dihidupkan dengan jalinan kisah yang sungguh menarik. Sebut saja kisah Rara Wilis, yang di kemudian hari menjadi isteri Mahesa Jenar. Juga tokoh Ki Ageng Banyu Biru, Arya Saloka, Jaka Soka, Sepasang Uling dari Rawa Pening, Ki Dalang Mantingan, dan sebagainya.
Masing-masing tokoh merajut ceritanya sendiri sehingga pertemuan antar-tokoh menjadi jalinan kisah yang sangat mempesona. Bukan Nagasasra dan Sabuk Inten saja yang menjadikan SH Mintarja sebagai tokoh pencerita ulung, karangan fiksi lainnya "Api Di Bukit Menoreh" yang berlatar belakang runtuhnya Kerajaan Pajang dan berdirinya cikal bakal Kerajaan Mataram di Bumi Mentaok juga tidak kalah menariknya. Bahkan saking panjangnya cerita, hingga sang pengarang meninggal dunia, cerita itu belum berakhir juga (konon mencapai 400-an buku dengan ketebalan 80-an halaman).
Nah, sekarang ini sulit mendapatkan cerita fiksi bersambung yang berlatar kerajaan-kerajaan di Jawa khususnya. Mungkin ada cerita fiksi bersambung (contoh cerita fiksi besutan Seno Gumira Ajidarma) yang lumayan berat dimuat bersambung di harian Suara Merdeka. Namun untuk mendapatkan cerita yang enak, menghibur, lancar, cair, agaknya semakin sulit saja.
Selain cerita-cerita SH Mintarja, sewaktu masih muda saya juga pernah menemukan karya-karya Herman Pratikto (Bende Mataram), Sawer Wulung, dan sejenisnya yang cukup imajinatif dan menggugah. Namun untuk sekarang ini, tidak mudah menemukan cerita-cerita semacam itu. Trend membaca anak-anak sekarang sudah berubah. Akan tetapi, mungkin masih ada para pembaca yang merindukan trend cerita fiksi bersambung gaya lama.
Saya, bukannya mengklaim sebagai penerus SH Mintarja, namun terinspirasi dengan gaya cerita beliau yang lugas, linier, dan cair. Saya mencoba menggali cerita fiksi berlatar sejarah lokal Alas Roban (Kabupaten Batang) masa paska Sultan Agung Mataram. Belum baik sih, tetapi bagi pembaca yang merindukan kisah-kisah lama dan bagi warga Bumi Alas Roban yang ingin mengenali karya warga sendiri mohon ikuti karya saya dalam cerita fiksi bersambung: Kabut di Alas Roban. Terima kasih.

2 komentar:

  1. ya, bisa jadi cerita masyarakat luas jika ini terus diberitahukan atau dipublikasikan ke masyarakat luas

    BalasHapus
  2. Oh ya Pak Gito. Dulu aku juga pernah menelusuri sejarah asal mula Desa Manggis Kec Tulis. Yang ternyata memang masih punya perspektif sejarah ke arah sejarah Surakarta. Dulu dikisahkan Ki Lurah Saeko (Cikal bakal Desa Manggis) mengadakan pemberontakan ke Adipati Wirasangka (Klaten) & Adipati Wirasangka dapat dibunuh oleh Ki Lurah Saeko. Sehingga Ki Lurah Saeko menjadi buronan Pasukan Kerajaan Mataram. Kemudian Ki Lurah Saeko melarikan diri ke Pantura Jawa (Batang). Cerita lengkapnya ada pada catatan kami. Barangkali kerikil kecil sejarah Manggis ini, dapat dimasukkan menjadi bagian dari Cerpen Kabut di Alas Roban (Tahap II). Atau paling tidak dapat menjadi sumber inspirasi untuk membuat cerpen sejarah yang sejenis dengan Kabut di Alas Roban.

    BalasHapus